Berkaitan dengan sastra remaja dan pembelajarannya, Hartley (2007)
menjelaskan, bahwa ketika sastra lebih didekati sebagai karya yang penuh dengan
pengalaman kehidupan dari pada sebagai pengalaman estetik, akan berpotensi untuk
mempengaruhi banyak individu sebagai pembacanya, utamanya remaja. Melalui sastra,
pembaca remaja dapat menemukan pengalaman hidup, membuat konkretisasi dan
penyadaran melalui kekuatan sebuah bentuk seni yang luar biasa hebatnya. Siswa yang
telah membaca sastra dan mampu mengkreasikan kembali teks sastra yang dibacanya itu,
akan sulit terlepas dari pengaruhnya.
Asher (2007) menyampaikan, bahwa cerita kehidupan yang disajikan dalam teks
sastra mengenai tempat dan status manusia di tengah masyarakat, juga semua
pengalaman manusia tentang dunia, dapat membantu siswa remaja untuk mencapai
pemahaman tentang kehidupan dengan lintas ruang, lintas generasi, lintas waktu, dan
lintas samudra. Karena itu, menurut Ford (2007), melalui membaca karya sastra remaja,
siswa dapat memperoleh pengalaman menarik tentang kehidupan, sekaligus pengetahuan
akademik dan konsep disiplin ilmu lain, seperti ilmu pengetahuan alam, matematika, dan
ilmu sosial, melalui pendekatan membaca yang berbeda dari yang biasa digunakan, yaitu
bentuk bacaan yang lebih familiar. Dengan membaca karya sastra remaja, siswa dapat
melihat bagaimana sastra dapat berjalan dan berhubungan dengan bidang ilmu akademik.
Menurut Dail (2007),
teks sastra remaja ada beragam jenisnya, mulai dari logo baju, lirik lagu, musik, majalah,
bahkan situs atau website. Jakob Sumardjo dan Burhan Nurgiyantoro (1982: 45-48;
2002: 16-22); membagi sastra fiksi menjadi dua jenis, yakni sastra literer dan sastra
populer atau sastra serius dan hiburan. Sastra literer adalah sastra yang memiliki bobot
Tidak ada komentar:
Posting Komentar